Beberapa hari ini saya penasaran dengan gerobak roti bakar yang baru buka diperempatan desa sebelah. Sebagai pecinta kuliner dan jajanan saya sempatkan diri untuk mampir dan membelinya.
Ketika motor berhenti, saya disambut seorang wanita yang saya kira adalah penjual.
Wanita tersebut bertanya, "Mbak ngersakne ingkang varian nopo?"
Sejenak saya memperhatikan menu-menu roti bakar, lalu kembali bertanya "menawi original isine nopo nggih Bu?"
"Ingkang original susu mbak".
Ketika hendak bertanya lagi wanita tersebut berjalan ke belakang dan memanggil seseorang. Ternyata ibu tersebut memanggil anaknya yang masih remaja untuk melayani pembeli.
Dalam hati saya kaget, kok anak kecil disuruh melayani pelanggan.
Saya masih tidak percaya kalau yang melayani saya adalah seorang anak remaja. Akhirnya saya putuskan untuk mencari jawaban dari rasa penasaran saya.
"Mas, yang jualan sampean?"
"Iya Mbak, saya yang jualan"
"Saya kira ibunya sampean yang jualan"
"Senes mbak , saya yang jualan"
Sayapun terbelalak dengan jawaban anak remaja didepan saya.
" Kelas berapa Mas?"
"Kelas 3 mbak" . Jawab masnya sambil memotong roti.
"Kelas 3 SMP Mas?"
"Nggih mbak"
" Kok keren sekali sampean".
Saya memperhatikan anak tersebut dan makin takjub. Jarang sekali saya temui anak laki-laki usia remaja yang mau bekerja bahkan kebanyakan dari mereka lebih sering main game didalam kamar.
Tapi anak ini dengan tangannya terampil membuka, memotong, mengoles blueband bahkan membakar roti tersebut.
Sekitar 15 menitan akhirnya roti tersebut siap dan dimasukkan kedalam kotak.
Saya berdiri dan bertanya lagi" Mas, sekolah dimana?"
"SMP 2 Srengat mbak"
"Namanya siapa?"
"Nama saya Farel ".
Sampai rumah saya menawarkan roti tersebut kepada orangtua. Ketika saya mencicipi roti tersebut rasanya lumayan enak. Dari Mas Farel saya mengambil sebuah pembelajaran bahwa tidak pandang tua ataupun muda selama kita masih bisa harus terus belajar dan bekerja. Bahkan kita yang sudah dewasa saja sering mengeluh ketika gagal dalam mencoba sesuatu, ini anak remaja malah mau bekerja dan mengambil resiko dari pekerjaan tersebut.
Tetap semangat untuk Mas Farel dan keluarga. Semoga jualannya lancar dan barokah.
Komentar
Posting Komentar