Langsung ke konten utama

Roti Bakar Mas Farel

Beberapa hari ini saya penasaran dengan gerobak roti bakar yang baru buka diperempatan desa sebelah. Sebagai pecinta kuliner dan jajanan saya sempatkan diri untuk mampir dan membelinya. 
Ketika motor berhenti, saya disambut seorang wanita yang saya kira adalah penjual. 
Wanita tersebut bertanya, "Mbak ngersakne ingkang varian nopo?" 
Sejenak saya memperhatikan menu-menu roti bakar, lalu kembali bertanya "menawi original isine nopo nggih Bu?"
"Ingkang original susu mbak". 
Ketika hendak bertanya lagi wanita tersebut berjalan ke belakang dan memanggil seseorang. Ternyata ibu tersebut memanggil anaknya yang masih remaja untuk melayani pembeli. 

Dalam hati saya kaget, kok anak kecil disuruh melayani pelanggan. 
Saya masih tidak percaya kalau yang melayani saya adalah seorang anak remaja. Akhirnya saya putuskan untuk mencari jawaban dari rasa penasaran saya. 

"Mas, yang jualan sampean?" 
"Iya Mbak, saya yang jualan" 
"Saya kira ibunya sampean yang jualan" 
"Senes mbak , saya yang jualan" 
Sayapun terbelalak dengan jawaban anak remaja didepan saya. 
" Kelas berapa Mas?" 
"Kelas 3 mbak" . Jawab masnya sambil memotong roti. 
"Kelas 3 SMP Mas?" 
"Nggih mbak" 
" Kok keren sekali sampean". 
Saya memperhatikan anak tersebut dan makin takjub. Jarang sekali saya temui anak laki-laki usia remaja yang mau bekerja bahkan kebanyakan dari mereka lebih sering main game didalam kamar. 
Tapi anak ini dengan tangannya terampil membuka, memotong, mengoles blueband bahkan membakar roti tersebut. 
Sekitar 15 menitan akhirnya roti tersebut siap dan dimasukkan kedalam kotak. 
Saya berdiri dan bertanya lagi" Mas, sekolah dimana?" 
"SMP 2 Srengat mbak" 
"Namanya siapa?"
"Nama saya Farel ". 

Sampai rumah saya menawarkan roti tersebut kepada orangtua. Ketika saya mencicipi roti tersebut rasanya lumayan enak. Dari Mas Farel saya mengambil sebuah pembelajaran bahwa tidak pandang tua ataupun muda selama kita masih bisa harus terus belajar dan bekerja. Bahkan kita yang sudah dewasa saja sering mengeluh ketika gagal dalam mencoba sesuatu, ini anak remaja malah mau bekerja dan mengambil resiko dari pekerjaan tersebut. 

Tetap semangat untuk Mas Farel dan keluarga. Semoga jualannya lancar dan barokah. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembawa Acara Kajian

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbilalamin.Robbissrohli shodri wayassirli amri wahlulu uqdatam millisani yafqohu qouli.  Selamat sore Bapak, Ibu warga perumahan Tirto Penataran Asri  yang saya hormati. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul bersama dalam rangka Siraman rohani dan buka bersama.  Tidak lupa sholawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad Saw.yang kita harapkan syafaatnya di yaumul qiyamah kelak. Amiin  Pada sore yang berbahagia ini, izinkan saya menyampaikan penghormatan dan ucapan terima kasih kepada: Yang Terhormat Bapak alim Ulama'  Yang saya hormati Para Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda Serta seluruh warga muslim/muslimah  perumahan Tirto Penataran Asri yang berkenan hadir Saya, Rino Wiraguna Rahman, akan memandu jalannya acara malam ini. Izinkan saya menyampaikan susunan acara malam tirakat...

Stay Here

Pertemuan adalah gerbang menuju perpisahan. (Wira Nagara) Sepi, detik pada jam dindingpun seakan mengerti bahwa hidup ini akan terus melaju bahkan tanpa bertanya kabar kita pada hari ini. Aku mulai menyadari bahwa hidup akan terus berjalan, bertemu dengan pengalaman baru, tempat baru dan orang-orang baru.  Aku siap menghadapi itu semua, tetapi terkadang aku rindu pada beberapa orang yang dulu pernah sangat dekat bahkan sudah kuanggap sebagai saudaraku.  Sekarang  satu persatu dari mereka pergi, ada yang diluar kota, merantau ke pulau lain bahkan ada yang beda negara. Aku bahagia karena akhirnya mereka meraih apa yang mereka cita-citakan, tapi aku juga sedih mengingat bahwa mereka tidak akan bersamaku, mereka telah pergi terpisah jarak yang cukup jauh denganku. Kadang aku berfikir, tidak apa mereka disana, yang terpenting kabar mereka baik-baik saja. Aku teringat sebuah buku "Destilasi Alkena" karya Wira Nagara ,yang salah satu kalimatnya mengena di hati  "Setabah apa...